Cerita Bokep

The Verde! [Milf Stories]

Cerita ini bermula saat gue dengan berat hati ikut teman memesan furniture yang akan digunakan untuk menjalankan bisnis barunya. Bisnis kuliner. Gue terpaksa ikut karena sebelumnya janjian sama dia untuk makan siang.

“Kita mampir bentar ye..” Kata temen gue pada mulanya. Sebut saja namanya Pange.

“Kemana? Males ah, gua langsung cabut aja.” Percobaan penolakan pertama gue.

“Yaelah, bentar doang. Sejalan kok..”

“Mau sebentar kek, mau sejalan kek, ngga deh. Gua mau langsung cabut! Males, macet!” Percobaan kedua.

“Brooh, lu kaya ada urusan aja sih. Udahlah, bentaran doang. Lu juga cuma mau langsung balik kerumah kan?”

“Gua emang ga ada urusan, tapi gua juga ga mau ikut sama lu. Dan perlu lu tau, balik kerumah itu bukan sesuatu yang “cuma” buat gua!” Percobaan ketiga sekaligus menjadi percobaan terakhir, dan sialnya, tetap gagal.

Gua diculik. Pange gak bales penolakan terakhir gua dengan kata, dia langsung eksekusi, memaksa gua masuk ke dalem mobilnya. Emmm, sebenarnya ada beberapa kata sih yang keluar dari mulut dia waktu menculik gua, tapi nanti aja gua kasih tau.

Setelah menempuh jarak yang gak lebih dari 20km dengan waktu 30menit, kami sampai ditempat tujuan. Ibukota memang kurang ajar, ya.

Baru keluar dari mobil kami sudah disambut oleh para kuli mebel yang sejenak menghentikan pekerjaannya menyerut, mengamplas dan mengecet kayu, hanya untuk menyapa Pange.

Luar biasa, rupanya teman gua satu itu sudah menjadi pelanggan premium bengkel furniture ini. Pange kemudian merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang 50rb untuk kuli2 yang tadi menyapanya.

Biajingan, rupanya sapaan kuli2 itu ada tujuannya. Dasar medioker!

Kami masuk ke dalam bengkel, lalu dipersilahkan menunggu diruangan ac. Sang pemilik bengkel rupanya sedang keluar makan siang.

Hari itu cuacanya panas sekali. Gua sempat melongok temperatur dihape menunjukan angka 36° celcius. Kalo saja bukan karena gua diruangan ber-ac dan pemilik bengkel yang gak lama lagi dateng setelah ditelepon Pange, mungkin gua sudah memesan ojek online untuk pulang.

Setelah hampir 20 menit menunggu, terdengar suara riuh ibu-ibu menggoda para kuli. Suaranya begitu nyaring. Membuat suasana panas siang itu makin tak terkendali. Kalo saja gua cek lagi temperature dihape, mungkin angka yang ada akan naik 2x lipat.

“Siang bos gantengg..” Sapa ibu tersebut saat masuk keruangan tempat gua menunggu. Benar saja, ibu itu adalah pemilik bengkel.

Usianya sekitar 49-55 tahun. Bodynya tak seperti kebanyakan ibu-ibu seusianya yang melar karena mengkonsumsi segala macam lemak, ibu ini slimfit. Besar kemungkinan dia rajin berolahraga, minimal, lari pagi setiap weekend.

Setelah percakapan basa-basi, si ibu mengajak Pange keruangannya. Pange minta gua menunggu sebentar sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Apa maksudnya?” Batin gua. Menyebalkan sekali perjaka tambun satu ini.

Jadi, waktu berhasil memaksa gua masuk ke dalam mobilnya untuk ikut ke bengkel ini dia berkelakar, “Lu nanti seneng deh ngeliat yang punya bengkel. Tenang aja, ga rugi lo ikut gue..” Mungkin itu maksud dari kedipan matanya.

Seneng ndasmu jebluk.

Si pemilik bengkel adalah ibu-ibu usia yang gua sebutkan diatas, ya meski memang terlihat sangat terawat tetap aja, udah ibu-ibu. Bukan selera gua. Terlebih si ibu pake kerudung pula, apanya yang bisa dieksplor untuk jadi bahan onani? Huh.

Tak berselang lama, Pange keluar lalu memberi kode ke gua untuk mengikutinya. Dengan raut wajah mahasiswa perantau yang jauh2 ke atm untuk ngambil uang bulanan dari ortu yang ternyata belum ditransfer, gua mengikutinya. Kami naik ke lantai atas bengkel, ke ruang display.

Diruangan itu sudah ada si ibu pemilik bengkel dengan tampilan yang berbeda. Dia tak lagi memakai kerudung. Terlihat beda dengan sosok yang pertama kali gua liat. Pange memukul lengan gua yang sesaat terkesima melihat perubahan si ibu sambil kembali mengedipkan sebelah matanya.

Gua tersenyum mengakui ucapannya ketika menculik gua. Lalu gua mulai meraba-raba, faktor apa yang membuat si pemilik bengkel terlihat begitu beda antara saat memakai kerudung dan tanpa kerudung.

Mata gua tertuju pada satu bagian: Leher! Oh, itu tidak sepenuhnya menjawab.

Gua kebagian lain: Rambut? Oke, bisa jadi. Tapi itu bukan bagian paling bertanggungjawab dari perbedaan yang terlihat

Hmm, ok, kali ini pasti jelas, itu biang keroknya, Belahan Payudara!

Rambut panjang sedikit kemerahan, leher jenjang, kulit putih mulus, dan sedikit penampakan belahan payudara yang sudah tak kencang adalah alasan kenapa Pange bilang, “Lu gak bakal rugi ikut gua. Pasti seneng ngeliat yang punya bengkel..” Dan yap, gua tarik kalimat, “seneng ndasmu jebluk..” diatas. Hehe.

Dari yang tadinya malas berinteraksi dan sebal pada kondisi yang sedang dialami, mendadak suasana hati gua berubah 180°. Meskipun si ibu pemilik bengkel tetap memiliki kekurangan.

Tapi rasanya, keinginan untuk melihat keseluruhan body slimfitnya tanpa busana menutupi kelemahan-kelemahan yang ada.

Yang menurut gua lemah dari ibu ini:
1. Jelas, karena doi udah ibu-ibu.
2. Suaranya nyaring banget.
3. Sudahlah suaranya nyaring, logatnya betawi banget pula. Emm, tapi memang orang dengan logat betawi cenderung bersuara nyaring sih. Exp: alm Mpok Nori. Mpok ati. Omas. Dll.

Kembali ke ruang display.

Tapi sebelum gua melanjutkan menulis adegan per adegan, gua beri nama dulu saja si ibu pemilik bengkel furniture ini. Karena nama tokonya ‘Irwan Furnitures’ maka gua akan menamai ibu ini, Furnitures! Ngok.

Irwan! Yap, kita pakai saja nama suaminya ini. Nama TO kita kali ini adalah Ibu Irwan. Kita singkat lagi untuk mempermudah penggunaaannya menjadi Buir.

Pange langsung mendekati Buir yang sedang menunjukkan contoh barang yang diminta si Pange, gua mengekor dibelakangnya.

Saat menunjukkan contoh mebel yang diminta Pange, Buir masih dengan pakaian ketika pertama gua melihat dia. Cardigan cokelat dengan daleman kaos v-neck dan celana jeans cukup ngetat.

Ini yang salah satu bikin dia terlihat beda. Sebelumnya dia pakai kerudung dengan cardinal yang terkancing sampai batas dada. Dengan begitu, seluruh bagian dada dia tertutup cardigan dan kerudung. Sedangkan kali ini, kancing cardigannya dilepas, tinggal lah kaos v-neck yang menutup dada bagian bawahnya, sedang bagian atasnya keumbar!

Tak perlu menunggu Buir menunduk untuk melihat belahan dadanya, dengan posisi dia duduk dikursi dan gua berdiri didepannya saja, sudah terlihat jelas putih mulus dadanya. Gua mulai senyum-senyum mendapati pemandangan yang cukup langka buat gua ini.

Pange dan Buir serius mendiskusikan bentuk dan segala macamnya itu, sementara gua, sibuk menunggu moment belahan dada Buir tersingkap lebih banyak. Mata gua gak pernah lepas dari tubuh Buir. Gua perhatikan dia dari atas sampai bawah. Gua amati pergerakkannya, gaya bicaranya, semuanya.

Buir jelas saja sadar kalo gua memperhatikan dia. Tapi sepertinya dia tidak terlalu peduli dan terganggu. Sesekali dia menatap balik kearah gua. Saat itu terjadi, gua hanya tersenyum dan memalingkan pandangan ke barang-barang contoh yang ada diruangan

Sampai disini, Ariel belum sepenuhnya berdiri. Dia sepertinya masih keukeuh kalo gadis lebih oke dari ibu-ibu. Dia cuma sesekali mengalirkan darah dengan kecepatan tinggi saat kaos v-neck yang menutup bagian utama dada Buir bergeser dari posisinya.

Buir punya badan yang benar-benar menarik untuk ukuran ibu-ibu, mengingat gua adalah pemuja gadis. Entah dengan kalian.

Badan Buir benar-benar bersih, kulitnya mulus. Untuk ukuran ibu-ibu, tentu saja.

Gua hakkulyakin kalo Buir perawatan dan orang yang senang menjaga penampilan. Gak heran sih, meski ibu-ibu dia kan pengusaha, dan gimana pun juga, dia sering bertemu banyak orang. Jadi jelas saja, penampilannya harus dijaga.

Ariel akhirnya bangun saat Buir merebahkan badannya dikursi pewe miliknya. Bentuk payudaranya yang tak lagi kencang tampak nyeplak dibalik kaos v-necknya. Fuck! Pantes aja bokep Mom and Son banyak peminatnya, yaa.

Pange yang sebelumnya serius dengan urusannya langsung melihat ke arah gua dan kembali mengedipkan sebelah matanya. Kali ini dengan raut wajah menahan tawa. Belakangan dia bilang, tak kuasa melihat wajah ‘pengen’ gua saat melihat pemandangan maha dahsyat tersebut. *sangking dahsyatnya, bahkan saat menuliskan paragraf ini, Ariel kembali bangkit.

Setelah Buir merubah posisinya dan kembali berdiskusi dengan Pange, gua mengelilingi ruangan display melihat-lihat karya yang diciptakan kuli mebel dalam negeri ini.

Sampai akhirnya gua tertarik dengan salah satu barang. Kursi panjang untuk bersantai ditepi pantai. Kursi ini bentuknya hampir mirip seperti huruf S yang ditidurkan dengan posisi miring. Dikasih tambahan sedikit busa atau bantal besar agar empuk, ini kursi pasti mantab banget kalo buat esek-esek.

Gua pun menanyakan harga dan mengutarakan ketertarikan pada kursi itu ke Buir. Buir lalu hanya menjawab sepintas saja, karena fokus melayani Pange.

Kemudian setelah Pange sudah tak lagi ‘rewel’, Buir menghampiri gua.

“Mau sama yang tadi?” Katanya, menyinggung soal kursi yang gua maksud.

Gua langsung kembali ketempat kursi tersebut, Buir mengekor dibelakang. Kemudian dia menjelaskan material apa saja yang cocok untuk melengkapi kursi.

Buir begitu memanjakan calon konsumennya, dia tidak hanya menjelaskan dengan kata tapi juga dengan gerakan. Bagian-bagian mana saja yang rawan rusak, bagaimana merawat kursi, dan posisi paling pewe menikmati fungsi kursi.

Saat dia memberitahu bagian kursi yang rawan rusak, yaitu kaki kursi bagian atas/punggung, belahan dadanya terlihat jelas sampai dalam. Buir dengan posisi jongkok, sedang gua dalam posisi menunduk/ruku

Gua menelan ludah melihat bagian dalam payudaranya. Belahan yang gua lihat kali ini sukses membangunkan Ariel. Gua gak konsen mendengarkan penjelasan Buir. Puting payudaranya tak terlihat karena menempel pada beha. “Bajingannn..” Batin gua.

Moment indah itu seketika ‘ambyar’ saat Buir tiba-tiba ngomong, “Segitunya. Masih doyan emangnya liat yang udah kaya gini..” sambil bangun dari jongkoknya dan kemudian menghampiri Pange.

Gua membeku. Sekujur badan gua berasa kram, sulit bergerak. Seperti baru saja kena anak panah beracun dari suku di Papua.

Tak lama setelah itu, Buir pergi dari ruang display. Gua sama Pange pun kemudian turun. Pange mengajak gua masuk ke ruangan Buir. Buir sudah di dalam, gua bingung harus bersikap seperti apa. Tapi karena Pange tak tahu kejadian tadi dan Buir tidak melihatkan tanda-tanda kemarahan, gua stay cool.

Setelah Pange dan Buir merampungkan transaksi perkara harga dan waktu pengerjaan, pertemuan kami pun selesai.

Gua menyalami Buir sambil menatap wajahnya, Buir tersenyum dan tak menunjukkan wajah kesal. Aman.

Kemudian gua berkata, “Bu, bagi kartu namanya ya..” sambil langsung mengambil kartu nama yang ada di mejanya.

“Oh, iyaa. Yang banyak sekalian aja, bagi-bagiin ke orang-orang..” Balasnya sambil tertawa cekekekan. Kami tertawa bersama.

***

Malam belum benar-benar datang saat gua mengirim pesan wa ke nomor yang tertera di kartu nama bisnis Buir.

“Hallo, bu Irwan. Aku Tyo, temennya Pange yang tadi siang ke toko. Bu, aku minta maaf ya soal kejadian tadi. *emot senyum+nyengir*”

Gua memberanikan diri ngirim pesan wa ke Buir karena sebelumnya Pange, si jejaka yang kalo ngewew gak puas lawan satu cewe, ngasih info ke gua kalo Buir itu single fighter. Irwan ternyata bukan nama suaminya, melainkan nama anaknya.

Buir sudah sendiri lebih dari 20 tahun. Dia gak tau apakah suaminya masih hidup atau sudah mati. Itu yang buat dia urung menikah kembali dan justru tak memikirkan itu karena sibuk dengan bisnisnya. Suami Buir adalah wna berkewarganegaraan Korea.

“Gua pernah di-sp-in sama dia. Tapi pas gua ajakin ngewew dia gak mau. Padahal lagi mabuk berat waktu itu.” Kenang Pange saat bercerita tentang Buir ke gua diperjalanan pulang dari toko.

“Gak lu ajakin lagi?” Tanya gua. Antara penasaran dan gak percaya cerita si kampret

“Boro-boro ngajakin lagi. Kejadiannya malem, paginya dia udah nelepon gua. Katanya, jangan pernah ngebahas soal kejadian itu. Mana nadanya serius banget. Dia khilaf dan nyesel sama kejadian itu. Yaudah, sampe sekarang gua jadi ga berani bahas lagi.” Pungkas Pange.

Informasi yang diberikan Pange begitu menggairahkan hingga merangsang iblis-iblis mesum dalam diri gua untuk bangkit. Dan secara bersamaan memaksa diri gua untuk meninabobokan malaikat-malaikat.

Dan speak-speak iblis pun dimulai dengan terkirimnya pesan whatsapp diatas!

Buir membalas pesan wa gua sejam setelah orang-orang ahli surga pulang dari masjid. Ba’da Isya.

Gua wa jam setengah 6 dibalas jam setengah 8 meski ‘last seen’ Buir tertera pukul 18:10 WIB.

Gpp, gak masalah. Yang penting terbalas. Dan yang lebih penting dari proses ssi, balasan Buir ada simbol tanda tanyanya.

“Oh iya. Hallo juga Tyo. Kejadian yang mana ya? Yang minta kartu nama? *emot nyengir*”

Tanpa menunggu status “online-nya” hilang, langsung gua bales.

“Hehe. Yang diruang display bu.. *emot malu*”

“Loh, kok malah minta maaf? Harusnya terimakasih dong. Hahaha *emot melet+peace*”

Bajiratt, baca wa dia, Ariel bergerak, dada berdebar, otak berpikir keras, dan tentu saja, iblis berbisik, “bisa ini mah, bos..”

“Duh, salah ya, bu. Yaudah deh, minta maaf karena malah minta maaf bukan terimakasih. *smile*”

“Nah, begitu dong. Iya, gpp. Itung2 sedekah! Hahaha”

“Haha bisa aja ibu. Btw, aku boleh jawab omongan ibu ga?”

“Omongan yang mana tuh?”

“Yang pas ibu tau kalo aku ngeliatin ibu. hehe. *emot malu+nyengir*”

“Apa ya? Aku ngomong apa ya?”

“Ibu bilang, “masih doyan sama yang udah kaya gini..” Kalo boleh ngejawab sih, aku mau bilang, justru aku doyannya yang udah kaya gitu.”

Berdebar keras dada gua menunggu respon Buir.

Buir memberi jeda waktu menjawab wasap terakhir gua. Entah karena sengaja atau sedang chat dengan orang lain atau mungkin customernya.

Lalu, “treng!” pesan wa masuk. Gua intip di notif, Buir membalas dengan “Hahahaha..”

Gua menunggu chat lanjutannya. Semenit. Sepuluh menit. Sejam. Dua jam. Tak ada chat lanjutan, bahkan sampai sehari berselang. Damn.

Gua kalut menanti balasan. Galau harus bertindak macam mana.

Dalam kekhawatiran akan kegagalan ngeliat Buir telanjang, Pange nelepon gua. Puluhan tahun gua temenan sama Pange, baru hari itu suara Pange ditelepon terdengar syahdu dan manis.

Pange: “Dimana lu cuk?”
Gua: “Tergantung pertanyaan lu selanjutnya apa. Kalo lu ngajak ketemu, gua lagi diluar kota.”

P: “Babi! Tadi Bu Irwan nelepon gua. Lu apain tuh emak-emak?”
G: “Hah? Serius lu? Lu dimana sekarang? Gua samperin deh..”

P: “Emang anak setan lu, ye. Yaudah, gua tunggu ditempat biasa..”

Setelah nutup telepon, gua langsung nyamperin Pange ke lampu merah. Pange gak ada. Gua lupa, lampu merah ‘tempat biasa’ Pange berada jaman dulu. Sekarang dia udah tobat. Hehe.

***

Pange bener-bener sobat fuck ter-the best gua. Dia bilang kalo hubungan kami gak deket-deket amat waktu Buir nanya ke dia. Dia bilang hari ketika kami ke toko adalah pertama kalinya ketemu lagi setelah 5 tahun gak pernah ketemu. Pange bilang kalo gua dan dia juga gak pernah kontak-kontakan. Luar biasa Pange.

Padahal, kalo lobang jamban ada dua, Pange gak akan keberatan boker bareng gua.

Maksud dari kebohongan Pange ke Buir adalah untuk meyakinkan Buir kalo apa yang akan dia lakukan sama gua, gak akan diketahui oleh Pange.

Pange tau betul watak Buir. Dengan berbohong seperti itu, Buir gak akan punya ‘beban’ untuk berhubungan sama gua. Genius, Pange.

“Emang lu ngapain dia sih?” Tanya Pange setelah bercerita panjang lebar.

“Ngga gua apa-apain..” Bales gua seadanya sambil membuka app wa untuk ngechat Buir.

“Lu ga cerita soal sp-span, kan?” Tanya Pange lagi. Gua tak bergeming. Pikiran gua sibuk mencari solusi chat apa yang harusnya gua kirim.

“Njing!” Pange kesal.

“Ngga!” Balas gua sambil senyum-senyum menemukan ide.

Gua kembali wa Buir untuk minta maaf kalo-kalo chat gua terakhir itu kurang ajar. Tak berselang lama, Buir menelepon.

Gua angkat sambil menjauh dari Pange.

Buir: “Hallo..”
Gua: “Hallo, bu. Hehe, gmn bu?”
Buir: “Gmn apanya?”
Gua: “Aduh, aku minta maaf ya bu, kalo aku kurang ajar..”
Buir: “Oooh, kagak. Malah aku harusnya yang minta maaf. Kemarin repot banget ngurusin pesanan. Jadinya lupa lagi chat sama kamu.”

Gua: “Waduh, bu. Gpp, bu. Aku jadi gak enak nih, malah kaya cuma ganggu ibu aja.”
Buir: “Oh, nggaaa. Gak ganggu kok. Lagi dimana mas?”
Gue: “Syukur deh, kalo gak ganggu. Aku lagi dirumah bu. Ibu dimana? Kok kayanya rame.”
Buir: “Iya, masih ditoko nih. Abis nganter barang..”
Gue: “Weh, hebat, jam segini masih di toko..”

Buir: “Iya, alhamdulillah, banyak orderan.”
Gue: “Alhamdulillah. Butuh pegawai tambahan gak bu? Aku siap bu. Hehe”
Buir: “Hahaha, aku ga bisa bayarnya nanti. Lagian emang mau jadi tukang kayu?”
Gue: “Loh, kenapa ngga. Presiden kita aja dulunya kan tukang kayu, bu. Haha”
Buir: “Hahaha bisa aja. Yaudah, aku mau pulang dulu. Mumpung udah lengang jalanannya.”
Gue: “Oh, iya bu. Hati-hati, bu. Oiya, ee, ngomong-ngomong, aku gak kurang ajar kan, bu?”
Buir: “Hah? Hahaha. Ngga, ngga. Kurang garem kali yak. Kaya sayur. Hahaha.”

End call.

Oke. What next? Gua buntu.

Gua ga tau harus pake trik apa buat dapetin perhatian Buir. Maklum, gua kurang pengalaman deketin ibu-ibu. Kalo abg sih, gua gak butuh 1×24 jam buat nelanjangin. *benerin rambut*

Iblis berkehendak. Buir chat gua duluan.

“Mas..” Wasapnya irit sekali emak-emak ini.
“Iya, bu. Udah dirumah?”
“Udah..”

Udah? Gitu doang? Buseehh, ngapain lu wa gua?

“Oh, sip deh..”
“Mas besok ada waktu?”
“Ada, bu. Jam berapa?”
“Kamu pulang ngantor aja..”
“Ada apa ya, bu?”
“Gak ada apa-apa. Kita ngobrol-ngobrol aja..”
“Oh, siap bu. Jangan kan besok, sekarang juga siap. Hehe..”
“Hahaha, jam segini mau kemana? Udah pada tutup tempat ngobrol..”

Ke hotel aja bu, gak usah ngobrol, kita ngewew. Hehe. Seandainya bisa langsung bales macam itu.

“Loh, justru enak bu jam segini. Gak macet..”
“Iya, yah..”
“Iya bu. Yuk. Hehe.”
“Kemana? Kamu ada kendaraan?”
“Gampang, bu. Kemana aja. Ada bu, aku jemput ya..”
“Gak usah, kita ketemuan aja. Aku biar naik taksi.”

Dan, percumbuan pun segera dimulai. Gua jemput Buir ditempat kami janjian. Warung klontongnya bule. You, know, lah.

Kemudian setelah ngalor-ngidul ngobrol dan nentuin mau kemana, sampailah kami ditempat parkir hotel.

Gua berdebar gak karuan. Beberapa kali ngaca, komuk gua keliatan gugup. Tapi tidak dengan Buir. Dia terlihat biasa saja. Hanya sedikit raut wajah malu yang terlihat.

Sepertinya orderan yang membludak lebih mempengaruhi pikirannya. Buir terlihat butuh refleshing. Dan, dia berada disamping orang yang tepat.

Gua ninggalin Buir saat dia checkin. Spiknya, mau beli jajanan. Padahal gua melipir ke tukang jamu. Gua gak mau mengecewakan ibu-ibu butuh sentuhan ini.

Setelah menenggak segelas jamu pasak bumi, dan membeli peralatan perang plus jajanan sebagaimana spik gua ke Buir, gua kembali meluncur ke hotel.

Gua mengatur nafas saat berada di lift. Kemudian stay cool saat mengetuk pintu kamar yang diberitahukan Buir.

Buir membukakan pintu dengan pakaian yang masih lengkap: Jeans ketat seperempat, dibawah lutut, dengan atasan kaos polo berwarna cokelat. Tanpa kerudung, tentu saja.

Buir duduk dishofa sebelah kasur sambil melihat pemandangan kota dari balik jendela. Sesekali dia menengok kearah tv dan tertawa oleh tayangan kartun yang sedang berlangsung. Aneh memang, tayangan kartun diputar pukul 11 malam.

Gua tersenyum melihat Buir dan masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri. Ternyata kamar mandi sudah terlebih dulu diperawani Buir. Ikat rambutnya yang tertinggal dikamar mandi gua bawa untuk menjadi perantara mesum. Hehe.

Gua berdiri dibelakang Buir. Tangan gua tak langsung berani menyentuhnya, gua menaruh organ yang nanti paling sibuk itu dipunggung kursi.

Gua mencoba melontarkan joke dengan membahas shofa yang sedang Buir duduki. Dia tertawa geli. Sambil terus berbincang, gua mulai memberikan sentuhan tangan ke bahu Buir.

Sampai akhirnya benar-benar berani memegang bahunya. Buir tak bergeming saat gua menyentuhnya, dia tetap berbicara topik yang sedang kami bahas.

Lalu setelah terjadi ‘krik-krik moment’, yaitu semacam mengheningkan cipta yang terjadi pada dua orang yang sedang bersama, Buir menatap wajah gua yang berada sedikit diatasnya. Raut wajah Buir, jika boleh dikalimatkan akan berbunyi, “Udah cepetan, cuk, jamah gue!” Haha

Gua pun langsung memberikan pijatan lembut dibahunya sambil menyentuh rambutnya. Gua merapikan rambutnya yang berada diwajahnya, kemudian memberikan gerakan untuk menyepol rambutnya. Buir merespon, dan mengambil alih usaha gua menyepol rambutnya.

Saat dia sedang mengikat rambutnya, gua menyentuh bibir bagian bawahnya. Selesai menyepol rambutnya Buir kembali menatap ke arah wajah gua, seperti kode siap untuk berciuman.

Gua pun langsung mendaratkan ciuman. Tidak ke bibirnya, tapi ke dahinya dulu. Seperti sedang menghembuskan isyarat bahwa ini akan menjadi pengalaman seks yang sudah lama tidak dia dapatkan. Buir memejam saat gua mencium dahinya, dia kemudian sedikit memutar arah badannya.

Lalu menatap gua dengan tatapan gadis 20 tahun yang sedang sange dalam balutan kasmaran.

Gua tersenyum lalu mendaratkan ciuman ke bibirnya. Buir tanpa ragu langsung membalas ciuman gua. Kami saling mengulum. Buir menghembuskan nafas panjang.

Gua lalu memutar shofa Buir menghadap ke arah gua. Buir sempat memeluk gua, dia merebahkan wajahnya menyamping diperut gua. Gua menyentuh bagian tubuhnya yang memang seharusnya gua sentuh. Ya kepala bagian belakangnya, ya lengannya, ya punggungnya, dan tentu saja, payudaranya.

Buir kembali ke posisi siap berciuman, gua menundukkan badan dan menberikan apa yang dia minta. Lidahnya keluar masuk dimulut gua. Begitu pun lidah gua. Sesekali lidah gua memutari bibirnya. Buir melingkarkan tangannya dileher gua.

Setelah puas berciuman, gua mengecup lehernya. Buir menggerakkan lingkaran tangannya, tanda kalo dia menikmati.

Gua pun semakin bringas mengecup tiap bagian lehernya tanpa melewatkan bagian yang ada sedikitpun. Buir pun mendesah, sambil memanggil nama gua, “Yoo..”

Gua tertawa kecil dan kembali mengecup bibirnya sambil kali ini meraba payudaranya. Buir pun beringas mengulum bibir gua saat payudaranya dieksplor.

Gua langsung melepaskan kaos polo Buir. Kini payudara yang sudah tak kencang itu terlihat begitu jelas dalam balutan bra yang juga berwarna cokelat. Buir refleks memegang Ariel yang sudah sangat tegang.

“Santai mom..” Batin gua, sambil menaruh kedua tangannya keatas, di punggung shofa.

Tubuh mulus bersih Buir yang wangi itu meningkatkan gairah gua 10x lipat. Ketiaknya yang terbuka mulai gua kecup. Wangi sekali. Buir memperhatikan tiap aksi gua dengan wajah keenakan.

Tanpa melepas tali bra, gua mengeluarkan payudara Buir keluar dari sarang. Putingnya hampir sama dengan kulit tubuhnya, putih. Tidak bisa dibilang pink, tapi tidak hitam juga. Merah maroon mungkin tepatnya.

Tanpa meminta ijin, gua langsung mengulum putingnya secara bergantian sambil meremas bagian yang lain. Buir kembali menyentuh Ariel, dan gua pun kembali mengembalikan tangannya ketempat semula.

“Nikmati saja dulu, bu..” Batin gua.

Setelah putingnya mengeras, gua kembali memberikan ciuman sambil meminta Buir berdiri dari shofa.

Gua mengulum bibirnya sambil meremas payudara. Buir melepaskan celananya lalu memutar badan hendak merebah ke kasur. Tapi gua menolak, dan kembali membalikkan badannya untuk duduk di shofa. Raut wajah Buir seperti, “huft!” dan kembali menikmati aksi gua.

Gua mulai menyentuh vaginanya yang masih tertutup kancut. Buir menggerakkan selangkangannya, tak kuasa menahan geli. Lalu saat tangan gua mulai masuk ke dalam kancut, Buir bangun dan menghempaskan gua ke kasur.

Buir menindih badan gua. Mengulum bibir gua lalu mengecup-ngecup leher gua. Ahh, geli sekali. Sambil menjilati kuping gua, dia meremas-remas Ariel.

“Lepas bajunya..” Bisik Buir sambil mengangkat kaos gua dan menciumi bagian perut.

Dia lalu melepaskan celana gua langsung dengan sempaknya. Ariel yang sudah menegang didepan wajahnya langsung dijilati. Kedua tangan Buir berada dipaha gua, dia tak memegang Ariel secara langsung. Lalu kemudian mengulum Ariel. Haap! Haap! Ahaha. Ipul mode on.

Buir menatap wajah gua sast Ariel tenggelam didalam mulutnya. Kepalanya naik turun sambil sesekali menjilati Ariel mengatur nafasnya. Gua menyentuh wajahnya sambil menyingkap rambut2 liar yang keluar dari ikatan memenuhi wajahnya.

Saat gua memberikan kode untuk ganti posisi dengan membangunkan badan, Buir justru kembali merebahkan badan gua dan memberikan serangan ke bibir. Gua melepaskan bra yang masih menempel di badannya.

Buir lalu melepas kancutnya, gua kembali bangun. Tapi Buir mengunci gerak gua dengan berada diantara paha. Gua menjilati payudaranya.

Lalu Buir memegang wajah gua dengan kedua tangannya. Sesaat dia menatap dalam wajah gua, dan lalu kembali melahap mulut gua.

Sambil kalap melumat bibir, Buir menggoyangkan kepala Ariel diantara bibir vaginanya. Saat gua hendak mengarahkan Ariel, dia mencegahnya.

Jleebbb! Ariel masuk ke dalam vagina Buir tanpa bantuan tangan.

Buir menggoyangkan pinggulnya, dia memutar-mutar pinggulnya agar Ariel bisa masuk tanpa dipandu. Sungguh, pengalaman tidak bisa bohong.

Buir mengerang saat Ariel sepenuhnya masuk ke dalam vagina, “Hhhuuuuu… Aaaahhhhh…” Suaranya, menggairahkan sekali.

Kemudian sambil kembali melumat bibir gua, dia mulai bergerak naik turun.

Tangannya melingkar diantara bahu dan leher gua. Buir langsung penetrasi tingkat tinggi. Dia bergerak naik turun liar sekali.

‘Hah, hah, hah…” Suaranya menggebu-gebu.

Gua membantu gerakannya dengan meremas bokongnya, mengangkatnya naik turun. Lalu maju mundur. Gua sambil mengulum puting payudaranya.

Badan Buir tegak dihadapan gua, lalu sedikit kebelakang saat pinggulnya maju mundur.

Dia lalu merebahkan badan gua dan diikuti badannya yang menindih. Dia masih begitu bertenaga. Lalu menegakkan badannya, sedikit jongkok dan kembali mengocok Ariel didalam vaginanya naik turun. “Plak, plak, plak..” Suara yang terdengar.

Tak lama, energi Buir droop. Bokongnya bergerak perlahan diatas gua. Kemudian merebahkan badannya diatas badan gua dengan nafas bak muterin senayan 10x.

“Capek..” goda gua. Dia tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya disamping wajah gua.

Gua lalu melakukan penetrasi dari bawah. Sambil menciumi Buir yang sudah tak bertenaga, gua bergerak naik turun. Badan slimfit Buir memudahkan gua beraksi.

Ketiak, leher, dan punggung Buir yang sedikit berkeringat makin buat gua semangat. Lalu tiba-tiba Buir seperti mendapat tenaga ekstra dan kembali menggeliat.

Dia menyentuh wajah gua sambil berciuman.

Gua terus menggerakkan pinggul gua naik turun sambil meremas bokong Buir. “Aakhh, aakkhh, aakhh..” desah Buir, diikuti dengan gerakan tubuh Buir mengikuti laju yang gua buat. Gua pun mendesah. Yaiyalahh..

“Ooohhhggg, oogghhh, ooouugghh..” Desah Buir lagi diatas mulut gua saat penetrasi makin tinggi. Gua menepuk-nepuk bokong Buir macam adegan bokep yang sering gua tonton. Buir terpancing dan bergerak sendiri seperti sebelumnya tanpa perlu gua bantu.

“Enak bu..” Kata gua. Buir membenamkan wajahnya diantara leher gua sambil terus bergerak. Gua kembali meremas bokongnya dan menggerakkan pinggul. “Gpp bu, dikeluarin di dalem?” Tanya gua dengan suara yang bercampur nafas tak beraturan.

Buir tak menjawab, dia hanya mengecup-ngecup leher gua dan tak lama gua memuntahkan Ariel didalam vagina Buir berbarengan dengan hembusan nafas panjang Buir, “Hhhaaahhhhh..”

Related Post