Cerita bokep

Pelajar sekandal sek antara Guru Dan Murid manja

Cerita bokep – Sebut saja namaku Resti, waktu itu aku masih sekolah di sebuah SMA swasta, Penampilanku bisa dibilang lumayan, kulit yg putih kekuningan, bentuk tubuh yang langsing tetapi padat berisi. Payudara dan pantatku pun mempunyai bentuk yg bisa dibilang lumayan.

Dalam bergaul aku cukup ramah sehingga ngak mengherankan bila di sekolah aku mempunyai banyak teman baik anak-anak kelas 2 sendiri atau kelas 1, aku sendiri waktu itu masih kelas 2. Laki-laki dan perempuan semua senang bergaul denganku.

Di kelaspun aku termasuk salah satu murid yg mempunyai kepandaian cukup baik, ranking 4 dari 10 murid terbaik saat kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2. Karena kepandaianku bergaul dan pandai berteman ngak jarang pula para guru senang padaku dalam arti kata bisa diajak berdiskusi soal pelajaran dan pengetahuan umum yg lain.

Salah satu guru yg aku sukai adalah bapak guru bahasa Inggris, orangnya ganteng dengan bekas cukuran brewok yg aduhai di sekeliling wajahnya, dia cukup tinggi dan cukup kekar. Kalau dia memang masih bujangan dan yg aku dengar-dengar usianya baru 26 tahun, yg termasuk bujangan ting-ting untuk ukuran zaman sekarang.

Baca Juga: Enaknya Selingkuh dengan Bini Orang

Suatu hari setelah selesai pelajaran olah raga, aku duduk-duduk istirahat di kantin bersama teman-temanku yg lain, termasuk cowok-cowoknya juga, sambil minum es sirup dan makan makanan kecil. Kita yg cewek-cewek masih menggunakan pakaian olah raga yaitu baju kaos dan celana pendek.

Memang di situ cewek-ceweknya terlihat seksi karena kelihatan pahanya termasuk pahaku yg cukup putih. Tiba-tiba muncul bapak guru bahasa Inggris tersebut, sebut saja namanya Febian dan kita semua bilang, “Selamat pagi Paa… Febian”, dan dia membalas sembari tersenyum.

“Ya, pagi semua. Wah, kalian capek ya, habis main volly nih”.

Aku menjawab, “Iya Pak, lagi kepanasan. Barusan selesai ngajar, ya Pak”

“Iya, nanti jam setengah dua belas saya akan ngajar lagi, sekarang mau ngaso dulu deh”.

Aku dan teman-teman mengajak beliau, “Di sini aja Pak, kita ngobrol-ngobrol dulu”

Lalu dia setuju dari ajakan kami.

“Boleh-boleh aja kalau kalian tidak keberatan”! ucap pak Febian

Aku dan teman-teman bilang, “Tidak, kok Pak.”, lalu aku menimpali lagi, “Sekali-sekali donk Pak kita dijajanin”, lalu teman-teman yang lain sahut, “Naaaah betuuul. Setujuu”. Ketika Pak Freddy mengambil posisi untuk duduk langsung aku mendekat karena memang aku senang akan kegantengan nya dan kontan teman-teman ngatain aku.

“Alaah… Resti, langsung deh, deket-deket, jangan mau Pak”.

Pak Febian menjawab, “Ahh! Ya, ndak apa-apa kok”.

Kemudian sengaja aku menggoda sedikit pandangannya dengan menaikkan salah satu kakiku seolah-olah akan membetulkan sepatu olah ragaku dan karena masih menggunakan celana pendek, maka jelas terlihat keindahan pahaku. Tampak Pak Febian tersenyum dan aku berpura-pura minta maaf.

“Sorry, ya Pak”.

Dia menjawab, “Santai aja”. Di dalam hati aku tertawa karena udah bisa mempengaruhi pandangan Pak Febian.

Di suatu hari Minggu aku berniat pergi ke rumah Pak Febian dan pamit kepada Mama dan Papa untuk main ke rumah teman dan pulang agak sore dengan alasan mau mengerjakan PR bersama-sama.

Secara kebetulan pula Mama dan papaku mengizinkan begitu saja. Hari ini memang hari yg paling bersejarah dalam hidupku. Ketika tiba di rumah Pak Febian, dia baru selesai mandi dan kaget melihat kedatanganku.

“Eeeh, kamu Res. Tumben, ada apa, kok datang sendirian?”

Aku menjawab, “Ahh, iseng ajasih . Sekedar mau tau aja rumah bapak aja”.

Lalu dia mengajak masuk ke dalam, “Ooo, begitu. Ayolah masuk Res. Maaf rumah saya kecil begini. Tunggu, ya, saya pakai baju dulu” ucap pak Febian

Memang Pak Febian hanya mengenakan handuk aja. Tak lama kemudian dia keluar dan bertanya sekali lagi tentang keperluanku. Aku sekedar menjelaskan, “Cuma mau tanya pelajaran Pak. Tapi kok sepi banget rumahnya pak”.

Dia tersenyum, “Saya kost di sini. Sendirian.”

Selanjutnya kita berdua diskusi soal bahasa Inggris sampai tiba waktu makan siang dan Pak Febian bertanya, “Udah laper, Res?”.
Aku jawab, “Lumayan, Pak”.
Lalu dia berdiri dari duduknya, “Kamu tunggu sebentar ya. Saya mau ke warung di ujung jalan situ. Mau beli nasi goreng. Kamu mau juga kan?”.
Langsung kujawab, “Ok-ok pak, makasih banyak deh.” ucapku tersenyum

Sewaktu Pak Febian pergi, aku di rumahnya sendirian dan aku jalan-jalan sampai ke ruang makan dan dapurnya. Karena bujangan, dapurnya hanya terisi seadanya aja. Tetapi aku juga sengaja masuk ke kamar Pak Febian.

Kulihat koleksi bacaan berbahasa Inggris di rak dan meja tulisnya, dari mulai majalah sampai buku, hampir semuanya dari luar negeri dan ternyata ada majalah porno pula dari luar negeri dan langsung kubuka-buka. Aduh! Gambar-gambarnya bukan main.” upcaku dalam hati

Cowok dan cewek yg sedang bersetubuh dengan berbagai posisi dan entah kenapa yg paling menarik bagiku adalah gambar di mana cowok dengan asyiknya menjilati vagina cewek dan cewek sedang mengisap penis cowok yang besar, yaitu gaya sex 69.

Tidak disangka-sangka Pak Febian datang di belakangku, “Lho!! Ngapain di situ Res. Ayo kita makan, nanti keburu dingin nasinya”.

Astaga! Betapa kagetnya aku sembari menoleh ke arahnya tetapi tampak wajahnya biasa-biasa aja. Majalah itu segera kulemparkan ke atas tempat tidurnya dan aku segera keluar dengan berkata tergagap-gagap, “Ti… tii… tidak,ngapa-ngapain kok Pak. Maaf ya Pak”.

Pak Freddy hanya tersenyum saja, “Ya. Udah tidak apa-apa. Kamar saya berantakan kok. tidak baik untuk dilihat-lihat. Kita makan aja, yuk” ajak pak Febian

Syukurlah Pak Febian tidak marah dan membentak, hatiku serasa tenang kembali tetapi rasa malu belum bisa hilang dengan segera. Pada saat makan aku bertanya, “Koleksi bacaannya banyak banget Pak. Emang sempat dibaca semua ya Pak?”.

Dia menjawab sambil memasukan sesendok penuh nasi goreng ke mulutnya, “Yaah, belum semua sih. Lumayan buat iseng-iseng nyantai aja”

Lalu aku memancing penjelasannya “Kok, tadi ada yang begituan”

Dia bertanya lagi, “Yang begituan yg mana Res”.

Aku bertanya dengan agak malu dan tersenyum, “Emmm… Ya, yang begituan tuh. Emm.., Majalah porno gitu pak”

Kemudian dia tertawa, “Oh, yg itu toh. Itu dulu oleh-oleh dari teman aku waktu dia ke Eropa”.

Selesai makan kami ke ruang depan lagi dan kebetulan sekali Pak Febian menawarkan aku untuk melihat-lihat koleksi bacaannya.

Lalu dia menawarkan diri, “Kalau kamu serius, kita ke kamar yuk” Kode dari pak Febian

Akupun langsung beranjak ke sana. Aku segera ke kamarnya dan kuambil lagi majalah porno yg tergeletak di atas tempat tidurnya. Begitu tiba di dalam kamar, Pak Febian bertanya lagi, “Betul kamu ngak malu?” aku hanya menggelengkan kepala saja.

Mulai saat itu juga Pak Febian dengan santai membuka celana jeansnya dan memperlihatkan bentuk penisnya ke pandanganku, kemudian dia menindihkan tubuhku dan kepalanya turun sedikit demi sedikit ke bagian vaginaku.

Pak Febian bertanya, “Sakit gak Res..?”. Aku hanya menggeleng kepala. Semakin lama jilatan Pak Febian semakin hot dan menggila. Rupanya dia udah betul-betul terbius nafsu dan ngak ingat lagi akan kehormatannya sebagai Seorang Guru.

Tetapi aku hanya bisa mendesah”Ah..hhh.. Uuhh… Hmmmm…”

“Kalau kayak gini enak Res?”

“Lumayan, Pak”.

Tanpa bertanya lagi langsung Pak Febian mencium mulutku dengan ganasnya, begitupun aku melayaninya dengan nafsu sembari salah satu tanganku mengelus-elus penis yg perkasa itu. Terasa keras sekali barangnya. Dan Mulut pak Febian bergerak ke atas untuk mengulum kedua puting payudaraku.

Praktis kami berdua sudah tidak berbicara lagi, semuanya sudah mutlak terbius nafsu birahi yg buta. Pak Febian berhenti merangsangku dan mengambil majalah porno yg masih tergeletak di atas tempat tidur dan bertanya kepadaku sembari salah satu tangannya menunjuk gambar cowok memasukkan penisnya ke dalam vagina seorang cewek yg tampak pasrah di bawahnya.

“Kita main posisi kayak gitu yuk Res?”.

Aku tidak menjawab dan hanya mengedipkan kedua mataku saja. Mungkin Pak Febian menganggap aku setuju dan langsung dia mengangkangkan kedua kakiku lebar-lebar dan duduk di hadapan vaginaku. Tangan kirinya berusaha membuka belahan vaginaku yg rapat, sedangkan tangan kanannya menggenggam penisnya dan mengarahkan ke vaginaku.

Kelihatan Pak Febian agak susah untuk memasukan penisnya ke dalam vaginaku yg masih rapat, dan aku merasa agak kesakitan karena mungkin otot-otot sekitar vaginaku masih kaku. Pak Febian memperingatkan aku “Tahan sakitnya dikit ya Res”. Aku tidak menjawab karena menahan terus rasa sakit dan,,,

“Akhhh.., bukan main perihnya ketika batang penis Pak Febian masuk, aku hanya meringis tetapi Pak Febian tampaknya udah tak peduli lagi, ditekannya terus penisnya sampai masuk semua dan langsung dia menidurkan tubuhnya di atas tubuhku.

Kedua payudaraku agak tertekan tetapi terasa nikmat dan cukup untuk mengimbangi rasa perih di vaginaku.

Semakin lama rasa perih berubah ke rasa nikmat sejalan dengan gerakan penis Pak Febian mengocok vaginaku. Aku terengah-engah, “Ahhh… Ahhh… Ah…”. Pelukan kedua tangan Pak Febian semakin erat ke tubuhku dan spontan pula kedua tanganku memeluk dirinya dan mengelus-elus punggungnya.

Semakin lama gerakan penis Pak Febian semakin memberi rasa nikmat dan terasa di dalam vaginaku menggeliat-geliat dan berputar-putar.

Sekarang rintihanku adalah rintihan kenikmatan. Pak Febian kemudian agak mengangkatkan badannya untuk mendapat ruang bebas. Ternyata Wowww…! Pak Febian semakin memperkuat dan mempercepat kocokan penisnya ke lubang vaginaku

Keperkasaan penisnya setiap detik semakin kuat dan kuat…! Kepalaku menggeleng ke sana ke mari dan akhirnya Pak Febian agak merintih bersamaan dengan rasa cairan hangat di dalam vaginaku.

Rupanya air maninya udah keluar dan segera dia mencabut batang keperkasaannya dari dalam lubang memekku.

“Aduuuhh… Saya jadi lemes nih Res hehe” ucapnya tersenyum

Setelah semuanya terasa santai dia bertanya padaku, “Gimana Res? Kamu ngak apa-apa kan? Maaf, ya tadi saya nafsu banget”

Sembari tersenyum aku menjawab “tidak apa-apa kok. Walaupun agak sakit Pak, tapi tenaga bapak masih OKE kok.

Dia berkata lagi, “Heheh… kamu bisa aja nih Res”.

Kemudian kami berdua tertidur hingga sore hari karena kelelahan. Sekitar pukul 17:00 aku dibangunkan oleh Pak Febian dan rupanya sewaktu aku tidur dia menutupi sekujur tubuhku dengan selimut.

Di ajak oleh Pak Febian “Kita mandi yuk Res. Karena kamu sore ini harus pulang kan?”.

“Iya sih pak, bentar ya…!” ucapku

Walaupun badanku masih agak lemas dan masih dalam keadaan telanjang bulat aku masuk ke kamar mandi. Kemudian Pak Febian masuk membawakan handuk khusus untukku. Di situlah kami berdua saling bergantian menggosok tubuhnya.

Akupun ngak canggung lagi ketika Pak Febian menyabuni vaginaku yang sekitarnya ada sedikit bercak-bercak darah yg mungkin luka dari selaput daraku yg robek. Begitu juga aku, ngak merasa jijik lagi memegang-megang dan membersihkan keperkasaan penisnya yg tangguh itu.

Setelah semua selesai, Pak Febian membuatkan aku teh manis secangkir. Meminum tes manis itu terasa segar kembali tubuh ini.

Semenjak itulah, bila ada waktu luang aku bertandang ke rumah Pak Febian untuk menikmati keperkasaan nya dan aku bersyukur pula bahwa rahasia tersebut ngak pernah sampai bocor. Kecuali dari majalah ini yang sengaja aku bikin ceritanya untuk kalian yang suka membaca majalah sex

Pernah Pak Febian menawarkan padaku untuk mengawiniku bila aku udah selesai kuliah nanti, tetapi aku belum pernah menjawab. Yang penting bagiku sekarang adalah menikmati dulu keganasan dan keperkasaan penis guru bahasa Inggrisku itu.